- Diposting oleh : SDI Al-Akbar
- pada tanggal : Juli 18, 2026
Tak dipungkiri, kearifan lokal pun lokal yang arif banyak ditemui di sekeliling kita. Hal yang di luaran sana sulit ditemui. Lah, apa iya ?!.. Ya entahlah. Hehehe.
Syahdan. Senin malam selasa 19 Agustus 2024, dilaksanakan Lailatul Ijtima', malam berkumpul, bagi warga Desa Blimbing Kesamben Jombang. Malam itu, puluhan orang berkumpul di salah satu mushala di sudut desa. Saking sudutnya, beberapa langkah saja sudah sampai di rumah masa depan, kuburan.
Entah, hal yang sebenarnya sangat biasa terjadi dalam setiap kegiatan warga terutama kegiatan di tempat ibadah, seperti mushala ini. Apakah itu ? Yup, berkumpulnya sandal, disamping berkumpulnya orang. Yen dipikir, banyak hikmah berserakan yang bisa kita pungut dari fenomena ini.
Menjaga agar tidak kena najis. Sandal bukan sekadar untuk gaya-gayaan, tapi guna mengamankan kaki dari najis yang mungkin ada di jalanan. Kita tau, di jalanan juga pekarangan banyak dilalui oleh hewan ternak, dan tidak jarang lanjut mengeluarkan kotoran yang oleh sebagian ahli fiqh dihukumi najis. Dan najis itu harus dihilangkan dari tubuh, pakaian juga tempat ibadah untuk sahnya kita beribadah. Kita tidak selalu awas akan najis itu. Lah, inilah letak penting nya sandal untuk menjaga kaki dari najis.
Trus, kok banyak sekarang sandal yang masuk masjid, dimasukkan dalam kresek, ditaruh disamping sajadah, piye itu ? Ah, entahlah. Bisa jadi memang terjadi pergeseran fungsi sandal, dari melindungi kaki agar tidak kena najis ke melindungi kaki dari panas atau benda tajam. Lebih dari itu, kita harus yakin haqqul yakin bahwa diri, pakaian dan tempat yang digunakan ibadah adalah terbebas dari najis. Cukup.
Kedua, sandal mengajarkan kita untuk ikhlas, kita belajar ikhlas dari sandal. Kok? Saat sandal berkumpul seperti itu, terlebih saat keluarnya jamaah secara serentak, maka potensi sandal terpelanting jauh dari tempat asalnya sangatlah besar. Pun sandal ketukar dengan sandal orang lain, peluangnya cukup besar, termasuk hilang. Itulah pertaruhan keikhlasan kita. Yakinlah, apapun yang terjadi dengan sandal kita, itu adalah skenario terbaik Allah untuk kita, terselip hikmah yang akan mendewasakan kita, kedepan.
Pun, kita belajar menghormati orang lain dari sandal kita. Kalaulah kita tidak ingin sandalnya diinjak orang, maka janganlah sekali-kali kita injak sandal orang.
Subhanallah...Berharap selalu bisa istiqamah, Amin.
~Pak Siroj~
